RSS

Tidak Ada Pilihan Kecuali Menyerah

Apa yang kita pikirkan, kita rencanakan, dan ingin kita wujudkan, tidak serta-merta terlaksana sesuai yang kita harapan. Ada saja sesuatu yang menyebabkan semua terlaksana, atau hanya sebagian atau justru tak satu pun dapat dilaksanakan. Lalu apa penentu dari semua itu…

Apakah ketika semua terlaksana berarti perencanaan kita yang hebat, atau ketika setengah atau bahkan semua tidak terlaksana, berarti perencanaan kita gagal, atau analisis kita terhadap masalah itu keliru…

Teori tentang pencapaian keberhasilan dari segala bentuk perencanaan sehebat apa pun itu, ternyata hanya sebatas teori, tidak ada satu pun manusia yang berani menjamin terwujudnya keberhasilan pasti dari teori-teori itu…

Inilah batas bagi kesombongan kita sebagai manusia.

Dulu kita merencanakan, kelak keluarga kita mesti begini, mesti begitu dan sebagainya. Istri harus yang begini, harus yang begitu dan sebagainya. Anak kita, kita bimbing begini, dan jangan begitu dan sebagainya…

Kini, setelah kita jalani, beginilah keluarga kita. Istri, anak, dan semua aturan kerumahtanggaan yang telah ada teorinya, telah kita coba terapkan dan jalankan. Apa yang terjadi di keluarga kita sekarang, dan yang akan datang, ini lah adanya dan beginilah kenyataannya. Jika ternyata telah sesuai dengan perencanaan dan harapan kita, itu terjadi begitu saja dan bukan karena kehebatan kita. Jika gagal dan berjalan di luar jalur yang kita rencanakan, kemampuan kita meluruskan pun ada batasnya ternyata…

Kekuatan terakhir tidak ada pada kita, tetapi berada di luar sana.

Kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerah. Menyerah pada ketidakberdayaan. Menyerah pada takdir. Menyerah pada ketetapan-Nya. Jika semua yang terjadi kini, sesuai harapan, maka tugas kita adalah bersyukur. Sebaliknya jika yang terjadi di luar harapan, maka yang dapat kita lakukan hanyalah bersabar. Dua kata inilah wujud nyata dari penyerahan kita…

Menyerah itu pasti. Apakah dengan kesadaran penuh atau dengan keterpaksaan, kita tidak punya pilihan lain kecuali menyerah.

Kita lemah dan Dia lah yang kuat.

Manusia itu sungguh lemah. Sekuat apapun ia, sebesar apapun kekuasaannya, ia tetap sangatlah lemah dihadapan Allah swt. Ini sesuai dengan Firman-Nya,

وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً

“Karena manusia diciptakan (bersifat) lemah. (QS.An-Nisa’:28)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 September 2018 in Renungan

 

Wafat

Innalillahi wainna ilaihi roji’un.

“Sesungguhnya semua milik Allah, dan kepada Allah jualah semua akan kembali.”

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja’ (Innalillahiwainnailaihirojiun) melainkan Allah akan memberinya pahala sebanding hari ia tertimpa musibah” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Kitab Al Bidayah wan Nihayah, 8:221 oleh Ibnu Katsir).

Kadar keimanan seseorang konon menentukan seberapa tangguh ia menghadapi musibah. Orang dengan kadar keimanan yang tinggi akan lebih mampu menerima musibah sebagai anugerah tak ubahnya ia menerima hadiah. Ia sadar bahwa musibah itu bukan kehendaknya sebagaimana ia sadar bahwa keberadaan dirinya dan segala kemungkinan yang bakal menimpa dirinya pun bukan atas kehendaknya. Mengalir saja.

Hanya saja ketika peristiwa itu terjadi tiba-tiba dan seolah belum ada kesiapan menerimanya, jiwa senantiasa bergetar, berulang-ulang dan seakan tak percaya bahwa peristiwa itu benar adanya.

Butiran keringat dingin bermunculan, rasa takut yang luar biasa dan tak pernah kita rasa sebelumnya tiba-tiba ada dan di luar kendali kita. Kita akan bersembunyi di mana, rasa itu tetap saja ada. Menghibur diri ke luar rumah, terhibur sejenak dan sesampainya kembali di rumah rasa itu tak juga sirna. Hanya kekuatan doa yang terus  kita panjatkan ke hadirat-Nya yang mampu meredam gejolaknya dan itu pun tak padam seketika. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallahuwallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illabillahil ‘aliyyil adzim. Astaghfirullahal’adzim.

Bismillah, bismillah, bismillah. A’udzu bi’izzatillahi wa biqudratihi min syarrimaa ajidu wauhadziru… Robbana taqobbal minna innaka antassami’ul ‘alim watub’alaina innaka antattawwaburrahim. (7x H. Kaelani Mahfudz, lewat Akhmad Fauzi bin H. Kaelani Mahfudz)

Semoga yang telah terdahulu kembali kepada-Nya diampuni dosa-dosanya dan segala amal baiknya diterima sebagai bukti bakti kepada-Nya dan jalan menuju ridlo-Nya.

Giliran kita yang masih dikaruniai sisa-sisa usia mengarungi kehidupan dunia, semoga dikuatkan untuk senantiasa berbuat kebaikan, sebagai penutup keburukan yang sadar atau tanpa sadar telah kita lakukan, hingga dapat mencapai akhir kehidupan yang penuh ampunan, husnul khotimah.

Doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia ya Tuhanku seorang yang diridhai.” (Maryam: 4)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan kebaikan yang dikerjakan secara terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al Kahfi 46).

Renungan meninggalnya almarhum mertua, Pak Jemali.

Allohummghfirlahu, warhamhu, wa’afihi wa’fu’anhu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Agustus 2017 in Renungan

 

Kendali dalam kuasa bukan dalam cinta

Ketika Raja Fir’aun berdialog dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, terungkap ketidakberdayaan Raja Fir’aun dalam beradu argumentasi hingga akhirnya Sang Raja mengancam akan memenjarakan Nabi Musa. Ummatnya pun tak percaya lagi kepada Sang Raja, tetapi justru hampir saja teralihkan kepercayaan mereka kepada ahli-ahli sihir yang didatangkan untuk menandingi mukjizat yang dimiliki Nabi Musa ‘alaihissalam, jika saja Nabi Musa tidak dapat mengalahkan para tukang sihir itu. Terhadap rakyatnya pun Sang Raja Fir’aun mengancam akan memenjarakan semua yang taat pada Nabi Musa ‘alaihissalam. Ini bukti dari zaman ribuan tahun yang lalu, bahwa kekuasaanlah yang kemudian akan berbicara manakala logika sudah tersudutkan dialog sudah tidak mungkin lagi untuk diteruskan. Ketika kekuasaan berbicara maka hati nurani tidak demikian penting lagi untuk dipertimbangkan. Suasana ketaatan pun bukan dalam rangka cinta, tetapi karena kuasa. “beda”

Disarikan dari materi pengajian Malam Kamis, awal Februari 2017, oleh Bp. dr. Jum’atil Fajar, di Rumah Bapak H. Rujito.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2017 in Renungan

 

Rencana UNBK 2017

Pada tahun pelajaran 2016/2017 ini, SMK Negeri 1 Kuala Kapuas kembali akan mengikutsertakan seluruh siswa kelas XII pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), sebagaimana tahun pelajaran yang telah lalu, 2015/2016. Adapun jumlah peserta ujian tahun pelajaran ini diperkirakan sebagai berikut:

  1. Jurusan Administrasi Perkantoran = 79 (tujuh puluh sembilan) orang
  2. Jurusan Akuntansi = 58 (lima puluh delapan) orang
  3. Jurusan Tata Niaga/Penjualan = 46 (empat puluh enam) orang, dan
  4. Jurusan Multimedia = 55 (lima puluh lima) orang.

Dengan demikian total peserta ujian = 238 (dua ratus tiga puluh delapan) orang.

Sesuai ketentuan penyelenggaraan UNBK, jumlah komputer client yang akan digunakan siswa mengikuti ujian mesti disiapkan sebanyak 1/3 (sepertiga) dari jumlah total seluruh peserta. Dengan demikian komputer yang mesti disiaapkan sebanyak 77 (tujuh puluh tujuh) unit ditambah 10% cadangan = 85 (delapan puluh lima) unit.

Jika setiap Laboratorium komputer mampu menampung 20 (dua puluh) unit PC, maka jumlah Lab yang mesti disiapkan adalah 4 (empat) lab sehingga jumlah komputer untuk ujian = 80 (delapan puluh) unit.

Adapun topologi jaringan untuk pelaksanaan UNBK dimaksud rencananya sebagai berikut:

Topologi UNBK SMKN 1 Kuala Kapuas 4 Lab 2017

Semoga UNBK mendatang dapat dilaksanakan dengan baik, lancar dan sukses, baik penyelenggaraan maupun prestasi dari seluruh peserta UNBK.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Agustus 2016 in Informasi Umum

 

Kawan Akrab

Sekadar renungan.

Dalam perjalanan pulang dari mengantar anak ke sekolah, tiba-tiba terbersit pemikiran bahwa: “Selama proses mutasi beberapa waktu lalu, ternyata sangat sedikit kawan akrab yang dengan kerelaan hati dan penuh kesungguhan, membantu upayaku ini. Sebagian dari mereka hanya mengerlingkan mata tanpa berkata-kata, sebagiannya lagi mengatakan itu tidak mungkin, lalu ada juga yang mengatakan mesti cukup modal, tidak bisa hanya “maju dengkul”, lalu ada yang mengembalikannya kepadaku, pikir sendiri saja, kan sudah dapat disimpulkan. Sebaliknya, bantuan justru datang dari orang-orang yang tak kukenal sebelumnya. Mereka bukan kawan tetapi mereka memberiku pemikiran dan kemungkinan-kemungkinan agar proses ini dapat berjalan dan dikabulkan. Tidak sederhana, tetapi kucoba kujalani dengan bermodalkan semangat mutasi demi penyegaran diri. Alhamdulillah, kini permohonan itu benar dikabulkan, dan Surat Keputusan mutasi telah diterbitkan. Semoga semua ini karunia dari Allah SWT yang mesti kusyukuri, dengan “tetap” mengabdi di tempat baruku nanti.

 Jadi ternyata,

Dari seribu kawan, belum tentu ada satu yang ikhlas membantu.”

Kesimpulan:

Berfikir, bertindaklah “sendiri” dengan sungguh-sungguh dan bertawakallah. Jika belum ada kawan akrab yang berkenan membantu, janganlah berputus asa, tetaplah berusaha Insya Allah tak ada upaya yang sia-sia.

Juga ini,

Dari seribu lawan, tak ada satu pun yang tak bermaksud menghancurkan.”

Jadi, bersabarlah.

Edisi mutasi medio 01 Februari 2016

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Februari 2016 in Renungan

 

Singgasana

Lepaskan tawamu kala suka merajut jiwa

Kucurkan derai air matamu kala duka malanda sukma

Bebas saja…

Itu tak ubahnya seperti bergilirnya malam dengan siang

Bertukarnya suasana pagi dengan petang

Beralihnya bising ke keheningan

Teriknya matahari akan tergantikan dengan redupnya malam bergemintang berbulan

Biarkan ragamu melepas semua beban yang menggelayutinya

Kegembiraan yang melalaikan dan kesedihan yang menghanyutkan

Harapan yang menggelorakan dan kekhawatiran yang melumpuhkan

Biarkan ragamu melenggang

Nyanyian akan terasa sebagai hiburan

Rayuan akan menyejukkan, dan

Alam pun akan menjadi singgasana yang memanjakan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2016 in Renungan

 

Tutorial Interaktif Cara Membuat Surat Massal (Mail Merge)

Berikut saya sajikan Tutorial Interaktif: Cara Membuat Surat Massal (Mail Merge) pada Microsoft Office Word 2007 yang saya buat menggunakan aplikasi Camtasia Studio. Video ini dimaksudkan untuk membimbing siswa-siswi SMK Negeri 3 Kuala Kapuas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia Menulis Surat, lebih tepatnya Menulis Surat Undangan.

Silakan disimak, semoga bermanfaat.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2016 in Pembelajaran