RSS

Arsip Kategori: Renungan

Seputar hal yang sempat menggugah rasa merasuk sukma

Wafat

Innalillahi wainna ilaihi roji’un.

“Sesungguhnya semua milik Allah, dan kepada Allah jualah semua akan kembali.”

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimat istirja’ (Innalillahiwainnailaihirojiun) melainkan Allah akan memberinya pahala sebanding hari ia tertimpa musibah” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Kitab Al Bidayah wan Nihayah, 8:221 oleh Ibnu Katsir).

Kadar keimanan seseorang konon menentukan seberapa tangguh ia menghadapi musibah. Orang dengan kadar keimanan yang tinggi akan lebih mampu menerima musibah sebagai anugerah tak ubahnya ia menerima hadiah. Ia sadar bahwa musibah itu bukan kehendaknya sebagaimana ia sadar bahwa keberadaan dirinya dan segala kemungkinan yang bakal menimpa dirinya pun bukan atas kehendaknya. Mengalir saja.

Hanya saja ketika peristiwa itu terjadi tiba-tiba dan seolah belum ada kesiapan menerimanya, jiwa senantiasa bergetar, berulang-ulang dan seakan tak percaya bahwa peristiwa itu benar adanya.

Butiran keringat dingin bermunculan, rasa takut yang luar biasa dan tak pernah kita rasa sebelumnya tiba-tiba ada dan di luar kendali kita. Kita akan bersembunyi di mana, rasa itu tetap saja ada. Menghibur diri ke luar rumah, terhibur sejenak dan sesampainya kembali di rumah rasa itu tak juga sirna. Hanya kekuatan doa yang terus  kita panjatkan ke hadirat-Nya yang mampu meredam gejolaknya dan itu pun tak padam seketika. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallahuwallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illabillahil ‘aliyyil adzim. Astaghfirullahal’adzim.

Bismillah, bismillah, bismillah. A’udzu bi’izzatillahi wa biqudratihi min syarrimaa ajidu wauhadziru… Robbana taqobbal minna innaka antassami’ul ‘alim watub’alaina innaka antattawwaburrahim. (7x H. Kaelani Mahfudz, lewat Akhmad Fauzi bin H. Kaelani Mahfudz)

Semoga yang telah terdahulu kembali kepada-Nya diampuni dosa-dosanya dan segala amal baiknya diterima sebagai bukti bakti kepada-Nya dan jalan menuju ridlo-Nya.

Giliran kita yang masih dikaruniai sisa-sisa usia mengarungi kehidupan dunia, semoga dikuatkan untuk senantiasa berbuat kebaikan, sebagai penutup keburukan yang sadar atau tanpa sadar telah kita lakukan, hingga dapat mencapai akhir kehidupan yang penuh ampunan, husnul khotimah.

Doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia ya Tuhanku seorang yang diridhai.” (Maryam: 4)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan kebaikan yang dikerjakan secara terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al Kahfi 46).

Renungan meninggalnya almarhum mertua, Pak Jemali.

Allohummghfirlahu, warhamhu, wa’afihi wa’fu’anhu.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Agustus 2017 in Renungan

 

Kendali dalam kuasa bukan dalam cinta

Ketika Raja Fir’aun berdialog dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, terungkap ketidakberdayaan Raja Fir’aun dalam beradu argumentasi hingga akhirnya Sang Raja mengancam akan memenjarakan Nabi Musa. Ummatnya pun tak percaya lagi kepada Sang Raja, tetapi justru hampir saja teralihkan kepercayaan mereka kepada ahli-ahli sihir yang didatangkan untuk menandingi mukjizat yang dimiliki Nabi Musa ‘alaihissalam, jika saja Nabi Musa tidak dapat mengalahkan para tukang sihir itu. Terhadap rakyatnya pun Sang Raja Fir’aun mengancam akan memenjarakan semua yang taat pada Nabi Musa ‘alaihissalam. Ini bukti dari zaman ribuan tahun yang lalu, bahwa kekuasaanlah yang kemudian akan berbicara manakala logika sudah tersudutkan dialog sudah tidak mungkin lagi untuk diteruskan. Ketika kekuasaan berbicara maka hati nurani tidak demikian penting lagi untuk dipertimbangkan. Suasana ketaatan pun bukan dalam rangka cinta, tetapi karena kuasa. “beda”

Disarikan dari materi pengajian Malam Kamis, awal Februari 2017, oleh Bp. dr. Jum’atil Fajar, di Rumah Bapak H. Rujito.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2017 in Renungan

 

Kawan Akrab

Sekadar renungan.

Dalam perjalanan pulang dari mengantar anak ke sekolah, tiba-tiba terbersit pemikiran bahwa: “Selama proses mutasi beberapa waktu lalu, ternyata sangat sedikit kawan akrab yang dengan kerelaan hati dan penuh kesungguhan, membantu upayaku ini. Sebagian dari mereka hanya mengerlingkan mata tanpa berkata-kata, sebagiannya lagi mengatakan itu tidak mungkin, lalu ada juga yang mengatakan mesti cukup modal, tidak bisa hanya “maju dengkul”, lalu ada yang mengembalikannya kepadaku, pikir sendiri saja, kan sudah dapat disimpulkan. Sebaliknya, bantuan justru datang dari orang-orang yang tak kukenal sebelumnya. Mereka bukan kawan tetapi mereka memberiku pemikiran dan kemungkinan-kemungkinan agar proses ini dapat berjalan dan dikabulkan. Tidak sederhana, tetapi kucoba kujalani dengan bermodalkan semangat mutasi demi penyegaran diri. Alhamdulillah, kini permohonan itu benar dikabulkan, dan Surat Keputusan mutasi telah diterbitkan. Semoga semua ini karunia dari Allah SWT yang mesti kusyukuri, dengan “tetap” mengabdi di tempat baruku nanti.

 Jadi ternyata,

Dari seribu kawan, belum tentu ada satu yang ikhlas membantu.”

Kesimpulan:

Berfikir, bertindaklah “sendiri” dengan sungguh-sungguh dan bertawakallah. Jika belum ada kawan akrab yang berkenan membantu, janganlah berputus asa, tetaplah berusaha Insya Allah tak ada upaya yang sia-sia.

Juga ini,

Dari seribu lawan, tak ada satu pun yang tak bermaksud menghancurkan.”

Jadi, bersabarlah.

Edisi mutasi medio 01 Februari 2016

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Februari 2016 in Renungan

 

Singgasana

Lepaskan tawamu kala suka merajut jiwa

Kucurkan derai air matamu kala duka malanda sukma

Bebas saja…

Itu tak ubahnya seperti bergilirnya malam dengan siang

Bertukarnya suasana pagi dengan petang

Beralihnya bising ke keheningan

Teriknya matahari akan tergantikan dengan redupnya malam bergemintang berbulan

Biarkan ragamu melepas semua beban yang menggelayutinya

Kegembiraan yang melalaikan dan kesedihan yang menghanyutkan

Harapan yang menggelorakan dan kekhawatiran yang melumpuhkan

Biarkan ragamu melenggang

Nyanyian akan terasa sebagai hiburan

Rayuan akan menyejukkan, dan

Alam pun akan menjadi singgasana yang memanjakan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2016 in Renungan

 

Tentang Hidup dan Kehidupan

Ya Allah…

Ini renunganku, jika ada yang salah dari kalimat-kalimatku, kumohon Engkau berkenan memaafkanku.

Lalu, tunjukilah aku senantiasa ke jalan lurus menuju-Mu.

Ya Allah…

Kurasakan bahwa karunia-Mu begitu banyak untukku dan keluargaku. Aku sadari penuh itu. Alhamdulillah. Satu hal yang aku sampai kini tak mampu memecahkan sendiri masalah ini, yakni aku ini merasa telah meniti kehidupanku sejak kanak-kanak, remaja, dewasa dan berkeluarga dengan bersemangat untuk senantiasa tetap di jalan-jalan perkenan-Mu. Aku tak mengerti apakah di antara jalan-jalan yang telah kulalui itu ada jalan keberingasanku Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Mei 2014 in Renungan

 

Kelulusan

“Ati tidak lulus Pak”… ini bunyi sms dari anak pertamaku, Luthfiati, beberapa jam setelah dia kutunggu sms nya yang mengabarkan pangumuman hasil UAN 2008 di SD Negeri Selat Hilir 5 (Diponegoro).

Hilang seketika, semangat kerja yang selama ini kubangun. Aku akan berada di rumah saja mulai hari ini. Akan kutunggui dia belajar dengan tekun, kubimbing lagi dengan penuh kesungguhan. Tak berguna aku hilir-mudik kian-kemari menuntaskan berbagai kesibukan, kalau akhirnya seperti ini hasilnya. Aku akan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Aku telah melalaikan sebagian kewajibanku karena alasan ‘kesibukan’. Aku sudah jarang berkomunikasi dengan-Nya kala sunyi menyelimuti malam-malam yang kujalani. Ia telah memberiku kegiatan, lalu aku asyik dengan kegiatanku, dan lupa kepada-Nya. Aku akan perbaiki hubunganku dengan orang tuaku, dengan saudara-saudaraku, dengan atasan tempatku bekerja, dengan teman-tamanku semua, dengan tetangga-tetangga, ya… dengan semuanya, siapa saja. Akan kuperkecil volume tawaku, kutundukkan wajahku tatkala aku berjalan menunaikan berbagai kewajiban. Tak boleh lagi ada keangkuhan, kesombongan, kegagahan, sebab semua itu akan sirna seketika, manakala ketentuan-Nya yang tak sesuai dengan keinginanku, berlaku. Ya, apalagi yang akan kubanggakan jika ternyata yang kulakukan tidak membuahkan hasil seperti yang kuidamkan. Akan kulipat saja wajah ini biar tidak dilihat orang kekecewaan yang tersembunyi sangat dalam di lubuk nuraniku, yang terpancar lewat sorot mata dan guratan-guratan senyum penuh luka di wajahku. Mulai hari ini aku akan keluar rumah lewat lorong sunyi yang jarang dilalui. Tatapan mata kawan, sapaan para tetangga, akan merupakan hunjaman mata pisau yang sangat menyakitkan. Aku akan menghindar dari mereka semua. Aku akan bersembunyi dan menyendiri, sampai semua perilakuku berhasil kuperbaiki.

“… Ati lulus Pak…” ini kalimat yang diucapkannya kemudian, beberapa saat setelah dia kirim sms bahwa dia tidak lulus.

Masya Allah…

Ternyata anakku bermain-main dengan sms nya. Kepanikan yang kuderita, seketika sirna. Alhamdulillah. Segala puji bagi-Mu ya Allah. Anakku lulus.

Gejolak sukma yang kurasakan pagi hingga siang hari ini, Sabtu, 28 Juni 2008, kutuliskan di sini, sebagai peringatan dan kenangan yang tak akan kulupakan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Juni 2008 in Renungan

 

Cuaca mendung

Cuaca mendung hari ini. Suasana hati pun seolah turut dilanda hal yang dialami cuaca hari ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Maret 2008 in Renungan